Beranda

Sabtu, 30 Januari 2010

I.PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang
Pemanfaatan sumber daya laut (sektor perikanan) dimasa mendatang akan mengalami perkembangan yang pesat. Pembangunan dalam bidang perikanan pada dasarnya adalah untuk meningkatkan pemanfaatan secara luas sumber daya ikan tanpa menggangu kelestariannya.
Salah satu faktor yang penting dalam pemanfaatan sumber daya ikan adalah armada penangkap dalam hal ini adalah kapal. Sebagian besar dari kapal/perahu penangkap ikan yang dioperasikan oleh nelayan tradisional terbuat dari kayu. Pembuatan kapal/perahu tidak dibuat melalui proses rancang bangun yang bersifat ilmiah. Dari sisi desain konstruksi, proses pemilihan material dan pemasangannya hanya di dasarkan atas informasi turun temurun. Di sisi lain jangkauan daerah operasi juga didasarkan pada pengalaman.
Karakteristik kapal perikanan berbeda dengan kapal lainnya, ini dikarenakan beragamnya kegiatan yang dilakukan kapal perikanan. Menurut Nomura dan Yamazaki (1977) kapal perikanan memiliki kekhususan tersendiri yang disebabkan oleh bervariasinya kerja atau aktifitas yang dikerjakan oleh kapal tersebut. Kapal perikanan dalam suatu operasi penangkapan melakukan beberapa aktifitas, antara lain mencari daerah penangkapan ikan (fishing ground), mengoperasikan alat tangkap (setting), mengejar kelompok ikan dan sebagai tempat menampung hasil tangkapan.
Desain kapal dibuat berbeda-beda sesuai dengan fungsi dan peruntukkannya dengan memperhatikan persyaratan-persyaratan teknis pengoperasian kapal tersebut. Perbedaan-perbedaan dalam mendesain kapal ini terlihat dalam dimensi utama kapal, rancangan umum kapal dan rancangan penggunaan (Pasaribu1984, dalam Umam, 2007).
Stabilitas kapal merupakan hal yang sangat penting dalam perancangan suatu kapal, karena dari stabilitas ini seorang perancang kapal dapat memilih bentuk dan ukuran utama kapal yang sesuai dengan fungsinya. Baik buruknya nilai stabilitas suatu kapal dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya adalah bentuk bangunan bawah air dari kapal. Dimana dari bentuk kapal tersebut akan mempengaruhi periode oleng kapal pada saat beroperasi.
Pelabuhan Perikanan Nusantara Sungailiat adalah salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) berada di bawah naungan dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan. Pelabuhan Perikanan Nusantara Sungailiat berfungsi menjadi basis pangkalan kapal perikanan dengan skala layanannya mencakup kegiatan usaha perikanan di wilayah perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial dan ZEEI, yang memiliki cakupan kegiatan ekonomi melalui kegiatan usaha perikanan, termasuk didalamnya semua usaha perseorangan atau badan hukum untuk menangkap, membudidayakan, mengolah dan memasarkan ikan untuk tujuan komersial (Pelabuhan Perikanan Nusantara Sungailiat, 2008).




1.2 Perumusan Masalah
Kapal Gillet merupakan salah satu kapal perikanan yang digunakan untuk menangkap ikan ekonomis penting di perairan. Menurut Sadhori (1985) berdasarkan letaknya di dalam perairan gillnet dibedakan menjadi tiga jenis yaitu surface gillnet (gillnet permukaan), midwater gillnet (gillnet pertengahan), bottom gillnet (gillnet dasar). Dari ketiga jenis gillnet tersebut, yang paling aktif digunakan oleh nelayan di perairan sungai liat adalah bottom gillnet, karena tidak dipengaruhi oleh musim penangkapan ikan.
Selama ini di pelabuhan perikanan nusantara sungai liat belum ada dokumen standar mengenai kualitas stabilitas statis kapal perikanan. Tidak adanya dokumen standar mengenai nilai stabilitas statis kapal perikanan ini menyebabkan kurangnya bahan acuan dalam pembuatan kapal. Kapal perikanan di sungai liat dibuat secara tradisional berdasarkan pengalaman dan tradisi turun-temurun.
Penelitian mengenai stabilitas statis kapal perikanan per jenis alat tangkap di Indonesia masih sangat sedikit. Jenis alat tangkap yang digunakan nelayan sangat beragam antara lain gillnet, purseine, long line dan lain sebagainya. Fungsi stabilitas kapal sangat penting antara lain menunjang keselamatan awak kapal, mempermudah dalam operasi penangkapan ikan sehingga dapat meningkatkan pendapatan nelayan.
Kondisi perairan di masing-masing wilayah berbeda-beda tergantung letak geografis perairan tersebut. Kondisi perairan yang berbeda-beda tiap wilayah ini menyebabkan bentuk, karakteristik dan pengukuran stabilitas statis kapal yang digunakan berbeda.
Secara umum di Indonesia belum ada dokumen mengenai nilai standar stabilitas statis kapal penangkap ikan. Untuk itu perlu penentuan nilai standar stabilitas kapal perikanan di tiap-tiap wilayah, guna meningkatkan hasil produksi perikanan di Indonesia.
Stabilitas kapal mempunyai peran penting dalam mendukung hasil dari operasi penangkapan ikan di laut. Kesetabilan kapal penangkap ikan yang baik dapat memudahkan nelayan dalam melakukan penangkapan ikan. Dengan adanya kesetabilan kapal yang baik keselamatan awak kapal pun terjamin.
Kapal perikanan adalah salah satu jenis dari kapal laut, karena itu syarat-syarat yang diperlukan dalam suatu kapal laut juga dibutuhkan kapal ikan, namun demikin berbeda dengan jenis kapal umum lainnya seperti kapal penumpang, kapal barang dan lain-lain, kapal ikan mempunyai fungsi operasional yang lerbih rumit dan berat (Pasaribu, 1989 dalam Rahman, 2005).
Stabilitas statis kapal bottom gillnet di pelabuhan perikanan nusantara sungai liat belum pernah dilakkan penelitian sebelumnya. Pentingya pengetahuan stabilitas kapal dalam operasi penangkapan ikan sangat membantu meningkatkan kesejahteraan nelayan. Oleh karena, perlu diadakan penelitian mengenai stabilitas statis kapal bottom gillnet di pelabuhan perikanan nusantara sungai liat.










1.3 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kualitas stabilitas statis kapal Bottom Gillnet yang digunakan oleh nelayan untuk menangkap ikan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Sungai Liat.

1.4 Manfaat
1. Memberikan informasi tentang kondisi stabilitas statis kapal ikan di Indonesia khususnya kapal Bottom Gillnet.
2. Bahan pertimbangan bagi pemerintah setempat untuk mengambil kebijakan yang akan datang mengenai desain kapal yang sesuai di perairan selat Bangka untuk pemanfaatan sumberdaya perikanan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar