Beranda

Sabtu, 30 Januari 2010

II.TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Desaian Umum Kapal
Kapal merupakan suatu bangunan terapung yang berfungsi sebagai wadah, tempat bekerja (working area) dan sarana trasportasi. Kapal ikan temasuk di dalamnya. Kapal ikan memiliki kekhususan tersendiri yang disebabkan oleh bervariasinya kerja yang dilakukan pada kapal tersebut. Kerja pada kapal ikan meliputi fishing ground, mengoperasikan alat, mengejar ikan dan sebagai wadah hasil tangkapan (Iskandar, 1997).

Gambar 1. Bagian-bagian utama kapal
Keterangan:
1. Tinggi haluan 6. Linggi buritan
2. Sheer 7. Proppeler
3. Lantai dek 8. Rudder
4. Palka 9. Rudder post
5. Lunas 10. Wheelhouse
(Sumber: PSP331/KPN-PSP-FPIK IPB)

Gambar 2. Ilustrasi dimensi utama kapal dilihat dari depan
(Sumber: http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Ship_size_(front_view).PNG)


Gambar 3. Ilustrasi dimensi utama kapal dilihat dari depan
(Sumber: http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Ship_size_(side_view).PNG)

2.2 Stabilitas Kapal
Sebuah kapal dapat mengoleng disebabkan karena kapal mempunyai kemampuan untuk menegak kembali sewaktu kapal menyenget yang dikarenakan oleh adanya pengaruh luar yang bekerja pada kapal. Contoh pengaruh luar tersebut adalah: arus, ombak, gelombang, angin dan lain sebagainya (Bambang, 2008).
Titik penting dalam stabilitas kapal

Gambar 4. Diagram stabilitas kapal, pusat gravitasi (G), pusat daya apung (B),
dan Metacenter (M) pada posisi kapal tegak dan miring.

Ada tiga titik yang penting dalam stabilitas kapal yaitu
1. G adalah titik pusat gravitasi kapal
2. B adalah titik pusat apung kapal
3. M adalah metacenter kapal
(http://id.wikipedia.org/wiki/Stabilitas_kapal).
Perangkat stabilitas kapal
Ada beberapa perangkat yang digunakan untuk meningkatkan stabilitas kapal yaitu:
1. Sirip lambung
Sirip lunas atau disebut juga sebagai Bilge keel berfungsi untuk meningkatkan friksi melintang kapal sehingga lebih sulit untuk terbalik. Biasanya digunakan pada kapal dengan bentuk lambung V.
2. Tangki penyeimbang
Merupakan tangki yang berfungsi menstabilkan posisi kapal dengan mengalirkan air balast dari kiri ke kanan kalau kapal miring kekiri dan sebalikanya kalau miring kekanan.
3. Sirip stabiliser
Sirip stabiliser merupakan sirip di lunas kapal yang dapat menyesuaikan posisinya pada saat kapal oleng
(http://id.wikipedia.org/wiki/Stabilitas_kapal).
Secara umum, peristiwa terbaliknya kapal disebabkan oleh adanya gangguan pada stabilitas kapal. Kondisi stabilitas kapal ditunjukkan dengan posisi 3 titik utama pada kapal, yaitu titik B (bouyancy= titik apung kapal), titik G (gravity= titik berat kapal), dan titik M (metacentra= titik perpotongan antara dua garis yaitu yang melalui pusat gravitasi ketika kapal mengalami kemiringan dan garis yang melalui titik pusat bouyancy mula-mula). Kapal dikatakan stabil jika titik G masih berada di bawah titik M.
(http://www.dephub.go.id/knkt/ntsc_maritime/Laut/Draft_Laporan_Akhir_MT_Kharisma_Selatan.pdf).



2.3. Macam-Macam Keadaan Stabilitas Kapal
Menurut Bambang (2008), stabilitas kapal dibagi dalam tiga jenis yaitu sebagai berikut:
Stabilitas mantap atau stabilitas positif
Keadaan stabilitas kapal yang demikian ini apabila kedudukan titik G lebih rendah dari pada kedudukan metasentrumnya (titik M), sehingga sebuah kapal yang memiliki stabilitas mantap sewaktu kapal menyenget mesti memiliki kemampuan untuk menegak kembali. (Lihat Gambar dibawah ini).

Gambar 5. Stabilitas mantap/positif
Stabilitas goyah atau stabilitas negatif
Keadaan stabilitas kapal yang demikian ini apabila kedudukan titik G lebih tinggi dari pada kedudukan metasentrumnya (titik M), sehingga sebuah kapal yang memiliki stabilitas goyah atau negative sewaktu kapal menyenget kapal tidak memiliki kemampuan untuk menegak kembali, tetapi bahkan sudut sengetnya akan bertambah besar (lihat gambar dibawah ini)

Gambar 6. Stabilitas goyah atau stabilitas negatif
Stabilitas netral
Sebuah kapal mempunyai stabilitas netral apabila kedudukan titik berat G berimpit dengan kedudukan titik M (Metasentrum). Oleh karena jarak antara kedua gaya yang membentuk sepasang koppel itu sama dengan nol, maka momen penegak kapal yang memiliki stabilitas netral sama dengan nol, atau bahwa kapal tidak memiliki kemampuan untuk menegak kembali sewaktu kapal menyenget (lihat gambar dibawah ini).

Gambar 7. Stabilitas Netral
Ditinjau dari hubungan-hubungan yang ada antara kedudukan titik berat (G) dan Metasentrumnya (M), sebuah kapal mungkin memiliki stabilitas sebagai berikut :
1. Stabilitas mantap (stabilitas positif), apabila kedudukan metasentrumnya (M) lebih tinggi dari pada kedudukan titik beratnya (G), Sebuah kapal yang memiliki stabilitas mantap sewaktu kapal menyenget, kapal memiliki kemampuan untuk menegak kembali
2. Stabilitas goyah (stabilitas negatif), apabila kedudukan metasentrumnya (M) lebih rendah dari pada kedudukan titik beratnya (G). Sebuah kapal yang memiliki stabilitas goyah (stabilitas negatif) ini sewaktu kapal menyenget. Kapal tidak memiliki kemampuan untuk menegak kembali, tetapi bahkan sengetnya semakin besar
3. Stabilitas netral, apabila kedudukan titik beratnya berimpit dengan kedudukan metasentrumnya. Sebuah kapal yang memiliki stabilitas netral ini sewaktu menyenget, kapal tidak memiliki kemampuan untuk menegak kembali demikian pula tidak bertambah menyenget lagi.
2.4 Parameter Hidrostatis
Kapal-kapal yang besar cenderung mengalami kesulitan olah gerak dibandingkan kapal-kapal yang lebih kecil. Penyelidikan tentang karakteristik hidrodinamika kapal ini pada umumnya dilakukan dengan pendekatan teoritis-numerik dimana pada saat ini lebih populer dengan istilah dinamika fluida numerik (CFD). Teknik lain yang menjadi altematif adalah melalui pengujian model kapal menggunakan towing tank, manoeuvring ocean basin (MOB), wind tunnel, cavilalion tunnel, dan lain-lain. Meskipun lebih praktis dan tetap dengan akurasi tinggi, temyata penggunaan teknik ini memerlukan biaya yang cukup tinggi terutama untuk kapal-kapal yang besar dan kapal khusus (http://digilib.its.ac.id/detil.php?id=3746).
Efektivitas pengoperasian kapal penangkap ikan di laut pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh kemampuan kapal untuk tetap selamat (seaworthiness) dan karakteristik yang menekankan pada respon kapal terhadap kondisi operasional di laut (seakindliness), kedua hal tersebut merupakan kriteria utama yang harus dipenuhi oleh suatu kapal, yang berkaitan erat dengan karakteristik gerakan kapal (Husni, 2003).
2.5 Kelaikan Operasional Kapal Perikanan
Berdasaran Surat Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 46 Tahun 1986 Sertifikasi Kelaik Lautan Kapal Penangkap Ikan " setiap kapal penangkap ikan yang akan berlayar harus memenuhi persyaratan kelaik lautan kapal penangkap ikan dan kapal penangkap ikan yang dinyatakan memenuhi persyaratan kelaik lautan diberikan surat dan sertifikat berupa Surat Tanda Kebangsaan Kapal dan Sertifikat Kelaikan dan Pengawakan Kapal Penangkap Ikan".
Sertifikat Kelaikan Kapal, Kelaikan kapal penangkap ikan meliputi :
1. Konstruksi dan tata susunan kappa
2. Stabilitas dan garis muat kapal
3. Perlengkapan kapal
4. Permesinan dan listrik kapal
5. Sistem dan perlengkapan pencegahan dan pemadam kebakaran
6. Sistem dan perlengkapan pencegahan pencemaran dari kapal
7. Jumlah dan susunan awak kapal (Yirfan, 2008).
2.6 Tabel dan Kurva Hidrostatik
Tabel hidrostatik merupakan tabel yang berisikan data-data hasil perhitungan hidrostatik kapal. Contoh tabel hidrostatik dapat dilihat dibawah ini:
No Parameter wl 1 Wl 2 Wl 3 Wl 4
1 2 3 4 5 6
1 Volume displacement (m3)
2 Ton displacement (ton)
3 Water area (AW) (m3)
4 Midship area (m3)
5 Ton per centimeter ((TPC)
6 Coefficient of block
7 Coefficient of prismatic (Cp)
8 Coefficient of vertical prismatic (CVP)
9 Coefficient of waterplane (CW)
10 Coefficient of midship (C )
11 Longitudinal centre buoyancy (LCB
12 Jarak KB (m)
13 Jarak BM (m)
14 Jarak KM (m)
15 Jarak BML (m)
16 Jarak KML (m)

Pada kolom 3 – 6 memperlihatkan kondisi masing-masing parameter di tiap water line (wl). Kesemua nilai tersebut diatas berdasarkan hasil perhitungan hidrostatik. Arti tiap parameter pada table hidrostatik adalah:
Volume displacement, menunjukkan kapasitas/volume badan kapal di bawah water line (wl).
Ton displacement, menunjukkan berat badan kapal di bawah wl.
Water area (wl), menunjukkan luas area kapal pad awl tertentu secara horizontal-longitudinal

Gambar 8. Water area (wl)
Midship area, menunjukkan luas area di tengah kapal (midship) pada suatu wl secara melintang.

Gambar 9. Midship area
Ton per centimeter Immersion (TPC), menunjukkan berat yang dibutuhkan untuk merubah draf 1 cm.
Coefficient of finess, merupakan koefisien yang dapat menunjukkan bentuk badan kapal, terdiri dari dari: Coefficient of block (Cb), Coefficient of prismatic (Cp), Coefficient of vertical prismatic (CVP), Coefficient of waterplane (CW) dan Coefficient of midship.

Gambar 10. Coefficient of block (Cb)

Gambar11. Coefficient of prismatic (Cp) dan
Coefficient of vertical prismatic (CVP)

Gambar 12. Coefficient of waterplane (CW)


Gambar 13. Coefficient of midship
Longitudinal Centre Buoyancy (LCB), menunjukkan posisi titik buoyancy (gaya ke atas) dari midship sepanjang longitudinal kapal.
Jarak KB, menunjukkan posisi titik buoyancy dari titik k secara vertikal.

Gambar 14. Jarak KB
Jarak BM, menunjukkan jarak antara titik buoyancy terhadap titik metacentre secara vertical
Jarak KM, menunjukkan jarak antara titik metacentre terhadap titik K secara vertikal.
Jarak BML, menunjukkan posisi BM secara longitudinal, dihitung dari midship kapal.
Jarak KML, menunjukkan posisi KM secara longitudinal, dihitung dari midship kapal.
Kesemua nilai-nilai parameter hidrostatik tersebut, lebih jelas terlihat pada gambar kurva hidrostatik. Dalam kurva hidrostatik terlihat secara jelas perubahan nilai-nilai parameter hidrostatik pada setiap wl. Tiap kurva memiliki satu parameter hidrostatik. Hingga pada kurva hidrostatik terdapat 16 kurva yang mewakili ke-16 parameter hidrostatik. Contoh kurva hidrostatik dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar